Salafiyah di Indonesia

Faham Salafiyah itu di Indonesia tampaknya dulu menonjol di Muhammadiyah, Persis, dan Al-Irsyad. Namun akhir-akhir agak tampak surut, di antaranya karena organisasi-organisasi Islam tersebut mengembangkan diri dengan badan-badan otonomnya di bawah organisasi yang masing-masing mengembangkan usahanya, misalnya pendidikan, kesehatan, dan sosial. Hal itu di Muhammadiyah dikenal dengan istilah badan amal usaha. 

   Selanjutnya, sejak tahun 1990-an di Indonesia ada alumni-alumni dari Timur Tengah, khususnya dari Saudi Arabia, yang giat mengadakan pengajian-pengajian atau pendidikan dengan merujuk pada faham Salaf. Di samping itu diadakan pencetakan kitab-kitab terjemahan karangan ulama Salaf dengan cover Ahlus Sunnah. Bahkan dengan “membuang” nama Abdul Wahab, misalnya dalam penerbitan Kitab Tauhid karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Hingga cukup disebut dengan Kitab Tauhid Syaikh Muhammad At-Tamimi. Sehingga, kitab itu beredar luas dan dipelajari di pesantren-pesantren maupun madrasah-madrasah dan pengajian-pengajian. Sementara itu, sebelumnya KH Bey Arifin dari Surabaya tahun 1978 dengan rekan-rekannya selaku rohaniawan di Kodam VII Brawijaya telah menerjemahkan Kitab Tauhid  Syaikh Abdul Wahab dan diterbitkan oleh PT Bina Ilmu Surabaya. Kitab Tauhid itu dengan jelas-jelas memampangkan nama Muhammad bin Abdul Wahhab dengan nama kitabnya Ma’a ‘Aqidatis Salaf Kitabut Tauhid alladzi Huwa Haqqullahi ‘alal ‘Abid. Terjemahan Indonesianya: Bersihkan Tauhid Anda dari Noda Syirik.

     Tampaknya upaya penerbitan dengan terang-terangan menyebut nama Muhammad bin Abdul Wahhab itu kurang mendapat sambutan masyarakat. Berbeda dengan terjemahan baru oleh Muhammad Yusuf Harun alumni Timur Tengah setelah 1990-an, yang cukup menampilkan kitab itu dengan nama Kitab Tauhid Syaikh Muhammad At-Tamimi. Hasilnya, banyak pesantren dan madrasah bahkan pengajian yang meminatinya, bahkan pengkajian di radio-radio swasta. Dan hal itu disertai dengan tumbuhnya generasi yang  menamakan diri atau suka disebut kelompok Salaf, dan tidak ada kaitan dengan Muhammadiyah, Persis, Al-Irsyad ataupun lainnya. Hingga masyarakat tampak terperangah ketika tiba-tiba muncul satu barisan yang menamakan diri Lasykar Jihad Ahlus Sunnah Wal Jama’ah pimpinan Ja’far Umar Thalib yang bertandang ke Istana Negara dengan membawa pedang dan berdialog dengan Presiden Abdurrahman Wahid pertengahan 2000M. Keruan saja pihak NU (Nahdlatul Ulama) yang selama ini memperkenalkan diri sebagai kelompok Ahlus Sunnah menepis adanya kelompok Ahlus Sunnah model itu. Namun tepisan NU itu tidak ada dampaknya, bahkan kemudian ribuan orang dari Lasykar Jihad Ahlus Sunnah Wal Jama’ah alias Salafi itu menurut berbagai sumber berangkat ke Ambon untuk bergabung dengan Muslimin Ambon dalam menghadapi serangan (menurut data dan fakta) pihak Kristen sejak Idul Fitri 1999. 

   Jama’ah Salaf di Indonesia dalam pengajian-pengajian mereka, kitab yang biasa dijadikan rujukan adalah Kitab Tauhid Muhammad bin Abdul Wahhab At-Tamimi, Aqidah Wasithiyah oleh Ibnu Taimiyyah, Syarhus Sunnah oleh Imam Al-Barbahari, Fathul Majid syarah Kitab Tauhid At-Tamimi, kitab-kitab hadits seperti Bukhari, Muslim dan Kutubus Sunan, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir as-Sa’di, dan kitab-kitab Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah dsb. Kitab-kitab itu kini banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, sejak 1994. Meskipun demikian, di kalangan Salaf di Indonesia belum ada orang yang disebut ulama, baik oleh kelompok Salaf sendiri maupun pihak lain. Sementara itu ulama besar yang dikenal sebagai ulama Salaf di Saudi Arabia, tiga ulama terkemuka telah wafat belum lama ini, yaitu Syaikh Abdul Aziz ben Baz (2000), Syaikh Nasiruddin Al-Albani (2000/ 1421H), dan Syaikh Shalih Al-‘Utsaimin (2001/ 1421H).  


Bila Kiyai Menjadi Tuhan
Membedah Faham Keagamaan NU & Islam Tradisional
Oleh : Hartono Ahmad Jaiz

Kunjungi juga:

Didirikannya NU untuk Apa

Untuk apa dan kenapa NU didirikan? Masalah ini sering jadi bahan pertanyaan bagi orang-orang, lebih-lebih ketika ada masalah-masalah yang janggal ataupun mencengangkan bagi masyarakat, sedang masalah itu timbul atau dilakukan oleh orang-orang NU. Bahkan di kalangan NU, hatta pemimpinnya ataupun elitnya pun perlu mencurahkan tenaga dan fikiran secara tersendiri untuk menjawab ataupun menangkis pandangan orang tentang untuk apa sebenarnya NU didirikan. Sebagaimana Abdurrahman Wahid telah berupaya menulis artikel untuk menangkis sebisa-bisanya tentang pandagan para sejarawan tentang berdirinya NU.

    Oleh karena itu, setelah dikemukakan upaya Gus Dur/ Abdurrahman Wahid dalam menangkis pandangan para sejarawan, maka kini pada gilirannya ditampilkan penuturan para sejarawan mengenai kenapa NU didirikan.

   Karel A. Steenbrink menulis seputar berdirinya NU sebagai berikut:
   Ketika di Surabaya didirikan panitia yang berhubungan dengan penghapusan khalifah di Turki Kyai Haji Abdul Wahab Hasbullah (yang nantinya mendirikan NU, pen) juga menjadi anggota bersama Mas Mansur (tokoh yang masuk persyarikatan Muhammadiyah sejak 1922, pen). Beberapa rencana panitia ini untuk menghadiri muktamar dunia Islam tertunda, karena terjadi peperangan Wahabi di Saudi Arabia.

   Beberapa waktu kemudian muktamar tersebut terlaksana meski dalam bentuk yang berbeda. Pada saat itu Kyai Haji Abdul Wahab Hasbulah mengundurkan diri dari kepanitiaan. Pengunduran diri itu disebabkan dia tidak jadi dikirim sebagai utusn karena pengetahuan bahasa yang kurang, di samping pengalaman dunia yang tidak cukup luas. Menurut kelompok lainnya, dia tidak dikirim karena dia akan membela kemerdekaan mazhab Syafi’i di kota Mekkah yang saat itu dikuasai Wahabi. Dan memang, yang dikirim ke Mekkah hanyalah mereka yang menolak taqlid dan dicap Wahabi, termasuk di antaranya Mas Mansur

   Karel A Steenbrink melanjutkan tulisannya: “Abdul Wahab Hasbullah kemudian membentuk panitia sendiri yang bernama “Comite merembuk Hijaz.” Bermula dari komite ini, pada tanggal 31 Januari 1926 didirikan Nahdlatul Ulama. Nahdlatul Ulama (NU) memang muncul sebagai protes terhadap gerakan reformasi, juga dari kebutuhan untuk mempunyai organisasi yang membela mazhab Syafi’i dan menyaingi organisasi Muhammadiyah dan Al-Irsyad. Memang, tiga tahun kemudian Wahab Hasbullah bersama kawan-kawannya dari NU berangkat ke Mekkah untuk membicarakan  persoalan yang berhubungan dengan ibadat dan pengajaran agama menurut mazhab Syafi’i. Pada saat itu, Raja Ibnu Saud menjanjikan tidak akan bertindak terlalu keras dan memahami keinginan NU tersebut.”

   Kalau ungkapan itu dikemukakan oleh peneliti Belanda, ternyata persepsi yang hampir sama ditulis pula oleh peneliti Indonesia, H Endang Saifuddin Anshari MA seperti yang ia tulis:
   “Pada tanggal 31 Januari 1926 Nahdlatul Ulama didirikan di Surabaya, di bawah pimpinan Syaikh Hasyim Asy’ari, sebagai reaksi  terhadap gerakan pembaharuan yang dibawa terutama oleh Muhammadiyah dan lain-lain. Usahanya antara lain memperkembangkan dan mengikuti salah satu dari keempat mazhab fiqh. Tahun 1952 memisahkan diri dari Masyumi dan sejak itu resmi menjadi Partai Politik Islam.” 

    Kegiatan politik praktis NU mulai surut ketika memfusikan diri ke dalam PPP (Partai Persatuan Pembangunan) 1973. Lalu ditegaskan bahwa NU bukan wadah bagi kegiatan politik praktis dalam Munas (Musyawarah Nasional)nya di Situbondo Jawa Timur 1983, dan diperkuat oleh Muktamar NU 1984 yang secara eksplisit menyebut NU meninggalkan kegiatan politik praktisnya.
   Dalam Muktamar ke-27 di Situbondo, NU dengan tegas menerima asas tunggal Pancasila dan menyatakan kembali kepada khittah 1926 yang berarti meninggalkan kegiatan politik praktis.

   Perkembangan berikutnya, pada bulan Juni 1998, PBNU memfasilitasi lahirnya PKB (Partai Kebangkitan Bangsa). Kebijakan tersebut mengundang pro dan kontra di kalangan warga NU sendiri. Akibatnya, lahirlah Partai Nahdlatul Ummat (PNU), Partai Kebangkitan Umat (PKU), dan Partasi Solidaritas Uni Nasional Indonesia (SUNI). Sementara itu, sebagian cukup besar warga NU yang lain tetap bertahan di Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Golkar.

   Perkembangan berikutnya lagi, Ketua Umum PBNU Abdurrahman Wahid terpilih sebagai presiden RI. Melalui Muktamar pada Nopember 1999, Abdurrahman Wahid lengser sebagai ketua umum PBNU, yang telah dijabatnya selama 15 tahun. Kepemimpinan beralih dari ‘duet’ KH Ilyas Rucjhiat-KH Abdurrahman Wahid ke tangan KHMA Sahal Mahfudz- (Rais Aam Syuriyah PBNU)-KH Hasyim Muzadi (Ketua Umum Tanfidziyah PBNU).


Bila Kiyai Menjadi Tuhan
Membedah Faham Keagamaan NU & Islam Tradisional
Oleh : Hartono Ahmad Jaiz

Kunjungi juga:

Isa Almasih menurut Jemaah Salamullah

Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Bani Israel menghukum Nabi Isa dengan memburunya seperti memburu dalang PKI di Indonesia dahulu. Keadaannya yang terlunta-lunta dan berusaha menghindari penganiayaan menjadikan dia dan para sahabatnya yang disebut daam Qur'an sebagai kaum hawariyun, terpaksa harus bersekutu menyembunyikan Nabi Isa.
Peranan Nabi Isa dipalsukan oleh sahabatnya.
Mereka memakai jubah Nabi Isa dan menyerupakan penampilannya. Namun ada kelalaian oleh seorang sahabatnya, yaitu Yudas Iskariot, yang ketika dipaksa dia mengakui keadaan itu.
Janji Allah kepada Nabi Isa yang akan menyambungkan kembali perjuangannya itu di masa depan menjadikan para sahabat itu rela menjadi korban pengganti baginya.
Beberapa di antara sahabatnya ingin menjadi Nabi Isa tiruan untuk mengelabui para pemburunya. di antara para hawariyun itu postur Nabi Isa sangat mirip dengan Yudas Iskariot, maka Yudaslah yang menjadi Nabi Isa tiruan.
Pengelabuan ini memang mudah dilakukan karena masih banyak yang tak mengenal wajah Isa. Maklum belum dikenal fotografi dan publikasi waktu itu, dan sahabatnya itu sebaya. Sebenarnya dengan diam pun kalau ada Isa di situ, orang yang mencarinya, sulit mengetahui yang mana yang Isa.
Loyalitas yang tinggi dari hawariyun sangat solid dan sulit dipecahkan. Seandainya Judas tidak terperangkap oleh sebuah kejadian membuatnya terpaksa mengaku, dia pun sebenarnya adalah orang yang loyal kepada Nabi Isa.
Dia terjebak pada suatu keadaan di mana "Nabi Isa" tiruan ini dipaksa untuk bersumpah untuk menyatakan adakah dia benar Isa atau bukan. Yudas tak berani berbohong dengan sumpah, maka ia menyatakan bahwa dia bukan Nabi Isa.
Demikianlah keterjebakan Yudas sehingga menimbulkan sejarah yang buruk untuknya. Dalam perjalanannya kembali menemui Isa, dia dikuntit oleh musuhnya tanpa sepengetahuannya. Kala tempat itu telah dikepung, Yudas mencari baju Nabi Isa dan dipakainya. Dia mengambil barang-barang Nabi Isa dan menjadikan dirinya sebagai jejak.
Pemalsuan Nabi Isa ini dilakukan olehnya sebagai pembalasan atas rasa bersalahnya itu. Dia menyerupakan Isa sambil berusaha menyelamatkan Isa. Sepanjang jalan dia membaca ajaran-ajaran Nabi Isa. Dia tampil sebagaimana penampilan Nabi Isa. Sehingga kaum Yahudi menangkapnya dan menyalibnya.
Pemimpin spiritual bani Israel menyebutkan dirinya sebagai utusan Allah yang akan mengadili Nabi Isa. Dia bersama para pemimpin spritual yang lain bersekutu menyatakan pernyataan Nabi Isa itu adalah kesesatan.
Tokoh umat Yahudi tak mengijinkan ajaran-ajaran Nabi Isa itu disebarkan. Dikatakan sebagai bisikan iblis. Beberapa pemimpin spiritual bani Israel yang meyakini Taurat tertipu oleh keegoan para tokoh mereka yang tak menginginkan ajaran Nabi Isa itu.
Karena dituduh akan membuat umat Israel itu terbius dan tak lagi akan mendengarkan petunjuk-petunjuk mereka.
Dari Yerusalem, ada Nabi Yahya yang menyuarakan kesaksiannya atas kebenaran pernyataan Nabi Isa. Bagaimana pun tak ada peluang bernafas lega dan bebas dari tekanan. Nabi Isa dan ibunya bersama kaum Essena berjuang di bilik-bilik yang tersembunyi dan ajaran-ajarannya itu ditumpuk dalam lubang lahat.
Setiap musuhnya selalu ingin memusnahkan ajaran itu, sedangkan ajaran itu adalah wahyu Allah yang disampaikan kepadanya. Maka mereka pun menyimpannya dengan hati-hati dan cermat.
Takbir dan pernyataan ke-Esaan Allah yang diajarkan Nabi Isa itu dinyatakan sebagai kesesatan, karena umat Yahudi waktu itu bertuhan banyak, dan Taurat yang dibawakan oleh Nabi Musa lebih diyakini oleh masyarakat bawah yang tak dapat memberikan pembelaan.
Kaum Essena dan Hawariyun itu hanya terdiri dari puluhan orang. Kesemuanya itu tunggang langgang menyelamatkan diri, dan hanya umat yang masih meyakini Taurat -lah yang sering mengulurkan tangan kepada mereka. Kekuasaan itu didominasi oleh para pemimpin spiritual.
Pengejaran terhadap Nabi Isa ini menyeluruh dan terus menerus sehingga tak dimungkinkan baginya untuk menyelamatkan diri.
Pemimpin spiritual Yahudi menyatakan Isa harus ditangkap dan disalib.
Yudas, yang telah merasa bersalah, menjadikan dirinya sebagai Isa tiruan untuk menebus dosanya. Dan dia menyatakan biarkanlah darahku ini untuk menebus dosa. Dia yang merasa telah mencoreng dan mengkhianati Isa mengambil alih seluruh tanggung jawab itu, dan dia tampil menyatakan diri sebagai Isa Al Masih.
Isa sendiri tak tinggal diam, ingin menyelamatkan Yudas. Mereka berdua kemudian disalib. Bani Israel tak dapat melihat yang mana yang Isa sebenarnya.
Saat keduanya sedang disalib, Allah memerintahkan Jibril untuk melepaskan Isa dari penyaliban dan membawanya ke surga. Isa diangkat oleh Allah dengan seluruh jasadnya. Sehingga tak ada kuburan Isa Al Masih, kecuali kuburan Judas.
Kala Isa diangkat Allah ke langit, umat Nasrani mengira mayat Isa telah dibuang oleh kaum Yahudi, sedangkan Umat Yahudi mengira Isa telah diselamatkan oleh kaum Nasrani.
Penjelasan di dalam Al Quran yang menyebutkan ia telah diwafatkan, yang dipahami bahwa "ia telah meninggal dan tidak disalib", bahwa kata-kata wafat di situ, bila ingin melihat keadaan waktu itu, adakah dimungkinkan Isa itu wafat tanpa melalui penyaliban ?
Instruksi para pendeta pada waktu itu adalah menyalibnya.
Ketika dia tertangkap karena dia ingin menyelamatkan Yudas, Allah telah menetapkan keadaannya itu sebagai akhir perjalanan tugasnya.
Janji Allah kepada Isa untuk mengangkatnya (QS 3:55), bahwa kejadian wafatnya Almasih, Isa putra Maryam itu ialah disebutkan sebagai dalam proses penyaliban. Kemudian dikemukakan bahwa ssetelah acara penyaliban itu Allah melepaskan ikatan-ikatan itu dan terlihat sebagai lilitan sinar di tangan dan di kakinya, kemudian Isa alaihissalam raib.
Bagaimana sebenarnya proses raib itu ? Tubuh Isa itu lenyap.
Dia kembali menyatu dengan sistem kemalaikatan.
Dunia malaikat itu hanya membatasi penglihatan. Dunia gaib adalah dunia nyata yang berada di balik tabir. Tak bermolekul, non materi, kehidupan itu adalah kehidupan ruh.
Telah kusebutkan dalam buku PAMST [Perkenankan Aku Menjelaskan Sebuah Takdir] bahwa ruh Nabi Isa itu adalah ruh malaikat. Dia memang dihadirkan Allah untuk menyambungkan ajaran Allah sesuai dengan masanya. Kini dia dibangkitkan untuk menyambungkan kembali ajaran-ajaran Allah. Setiap pernyataan Allah yang dikemukakan oleh para Nabi dan Rasul-Nya, itu adalah merupakan satu kesatuan. Malaikat Jibril yang menyertai Isa yang dahulu akan menjelaskan keadaan wahyu-wahyu Allah dari masa ke masa dan keadaan para Nabi yang menjadi Rasul-Nya dan menjernihkan sejarah itu sehingga ajaran Allah itu menjadi jernih kembali.
Demikianlah Isa dibangkitkan kembali di akhir Zaman, itu adalah ruhnya Nabi Isa yang dahulu, ditiupkan Allah kepada Ahmad Mukti yang akan menyambungkan tugas Nabi Isa.
Kebangkitan Nabi Isa diketengahkan umat Nasrani sebagai sosok Nabi Isa yang dulu datang lagi. Dengan cara apa? Tak ada yang bisa memberikan suatu kepastian pernyataan dengan cara bagaimana. Kebangkitan Nabi Isa yang terjadi itu, pada kenyataannya adalah sebagai berikut:
Dia melalui sebuah kelahiran dan Ahmad Mukti itu menerima ruh Nabi Isa sejak awal ketika dia masih berupa janin di dalam kandungan. Sejak kelahiran sampai dia dewasa, keadaannya disimpan, tidak diberitahukan demi perlindungan kepadanya. Persembunyian ini ditujukan untuk menghindarkan dirinya dari pembinasaan oleh dajjal. Sebagai Nabi Isa yang kelak akan membunuh dajjal tentulah oleh dajjal hal itu ingin digagalkan. Maka, keadaan Nabi Isa ini diungkapkan setelah dia berumur 26 tahun, pada saat pembaiatannya.
Kedatangan dajjal diberitahukan bersamaan dengan kebangkitan Nabi Isa. Maka kedatangan dajjal itu tak dapat dihindarkan oleh Nabi Isa. Sedangkan dia ingin dikemukakan sebagai manusia biasa oleh Allah demi untuk menghentikan pengkultusannya. Umat Nasrani telah mempersekutukan Nabi Isa dengan Allah.
Maka pada kebangkitan Nabi Isa ini dia dikemukakan sebagai orang yang belum menerima perisai-perisainya Nabi Isa. Dia hanya disebutkan sebagai Nabi Isa. Maka untuk membela dia dari serangan dajjal dan orang-orang yang tak menginginkannya, maka Allah menunjuk ibunya sebagai Imam Mahdi sebagai orang yang mengemukakan kebangkitannya dan sekaligus sebagai penjaganya.
Nabi Isa dan Imam Mahdi merupakan suatu kesatuan yang solid untuk menyampaikan perintah-perintah dan amanah Allah. Keduanya saling menjaga dan tugas mereka saling melengkapi. Misalkan Imam Mahdi dan Nabi Isa itu terpisah dan tak saling berkaitan, amanah-amanah Allah itu kembali menjadi pertentangan antara umat Kristen dan umat Islam.
Maka untuk pembuktian bahwa Ahmad Mukti adalah Nabi Isa, maka ruh Siti Maryam yang mendampingi saya dapat ditampilkan sosoknya pada diri saya setiap saat bila diperlukan. Dengan cara inilah Allah memberikan sarana bagi saya untuk membuktikan bahwa anak saya, Ahmad Mukti itu, adalah Nabi Isa.
Nama dia adalah Ahamd Mukti. Ruhnyalah yang ruh Nabi Isa. Dia terjamin oleh Allah sebagai Nabi Isa. Namun keberadaan Nabi Isa itu adalah sebagai baiat terhadap fungsi dan jati dirinya.
Setelah dia menerima baiat jati dirinya sebagai Nabi Isa dan telah memangku tugas-tugas Nabi Isa, Amad Mukti pun akan menerima segala atribut-atribut kenabian Isa. Seluruh pembaiatan kemukjizatan Nabi Isa dahulu akan menjadi miliknya.
Peristiwa ini akan menjadi bahan acuan bagi umat Nasrani untuk mengkajinya. Segala tanda-tanda kemampuan dan kemukjizatan yang dimiliki Nabi Isa akan diberikan Allah kepadanya pada saatnya. Dan pelimpahan mukjizat itu dapat langsung diikuti keadaannya oleh masyarakat yang ingin mengkajinya.
Sesungguhnya pernyataan saya ini sekaligus untuk disampaikan kepada seluruh masyarakat yang menginginkan pembuktian kehadiran Nabi Isa kembali. Allah sengaja mengemukakan kebangkitan Nabi Isa ini pada saat Ahmad Mukti sendiri, belum menerima apa-apa dari Allah, sebagai pembuktian Nabi Isa bukanlah anak Tuhan dan bahkan Tuhan.
Sejumlah peristiwa akan terjadi pada dirinya dan peristiwa itu adalah peristiwa yang diutamakan oleh para sahabatnya (Salamullah). Dan peristiwa itu dapat dipantau oleh siapa pun. Diharapkan kelak, pengumuman pernyataan ini akan menjadi perhatian orang banyak. Sehingga peristiwa-peristiwa yang mengikuti pembaiatan itu dapat ikut disaksikan. Kami hanya mendapatkan dari Malaikat Jibril tentang hal ini. Bagaimana kejadiannya, wallahu alam bisshawab.
Demikian jawaban kami.
Wassalam,
Lia Aminuddin.


"STUDI KRITIS PEMAHAMAN ISLAM"
Oleh ARMANSYAH

Sponsor link:

Muhammad SAW adalah Nabi Palsu?

Salah satu tuduhan umat Kristen terhadap Nabi Muhammad adalah sebagai nabi palsu. Mereka mendasarkan tuduhannya pada Mat 24:11, 24 yang berbunyi :  "Banyak nabi palsu akan muncul dan menyesatkan banyak orang."

Sayang sekali bahwa mereka tidak mengikuti perintah dalam kitab mereka sendiri untuk 'menguji segala sesuatunya' karena hanya dengan mengujinyalah kita akan tahu apakah seseorang yang mengaku-aku nabi itu palsu atau bukan.

Bahkan umat Kristen telah menetapkan untuk tidak mengakui Muhammad sebagai nabi sehingga dianggap sebagai nabi palsu tanpa mau mengujinya. Beberapa di antaranya bahkan membuat cerita-cerita bohong untuk membuktikan tuduhan mereka seperti Hugo Gratius, seorang ilmuwan dan negarawan Belanda yang membuat cerita bohong tentang Rasulullah dengan mengatakan bahwa Muhammad telah melatih burung merpati untuk memungut biji-bijian dari telinganya agar dapat menipu orang-orang di sekitarnya bahwa Roh Kudus dalam bentuk merpati telah membisikkan wahyu kepadanya ! Ketika ditanya bukti tentang hal tersebut Grotius dengan tanpa malu menyatakan tidak ada bukti mengenai hal tersebut.

Untunglah bahwa di antara umat Kristen sendiri ada beberapa ilmuwan lain yang tidak bisa menerima begitu saja cerita-cerita absurd semacam itu tanpa menyelidikinya lebih dahulu. Salah seorang ilmuwan tersebut adalah Thomas Carlyle, salah seorang pemikir besar Inggris dalam bukunya 'Heroes and Hero-worship'. Dalam bukunya tersebut dengan tegas ia menyatakan :
"Kebohongan-kebohongan, yang dengan penuh semangat telah dituduhkan pada Muhammad, adalah hanya menghinakan diri kita sendiri."
Mengapa ia berkata demikian ? Ternyata ia menemukan hal yang berbeda sama sekali dengan apa yang telah dituduhkan oleh umat Kristen terhadap Muhammad. Ia bahkan berbalik mengagumi Rasulullah dan membalas tuduhan-tuduhan mereka terhadap Rasulullah. Apa katanya tentang tuduhan nabi palsu pada nabi Muhamad ?
"Nabi palsu mendirikan sebuah agama ? Mana bisa ? Seorang yang palsu bahkan tidak bisa membangun sebuah rumah terbuat dari bata ! Jika ia tidak tahu dan tidak mengikuti ilmu dan cara-cara  membuat adonan semen, bata dan segala sesuatu yang berhubungan dengan itu. Bukannya rumah yang dapat ia bangun, melainkan  tumpukan sampah. Ia tidak akan dapat bertahan dua belas abad (sekarang 14 abad), memiliki pengikut sebanyak 180 juta orang (sekarang lebih dari 1 milyar pengikut), ajarannya akan hancur berantakan.....imam palsu adalah palsu. "

"Ambisi ? Apa yang bisa dilakukan seluruh tanah Arab untuk orang ini ; dengan mahkota dari Heraclius Yunani, Kerajaan Persia, dan semua mahkota yang ada di dunia; - Apa yang bisa dilakukan untuk Muhammad ? Tidak ! Tidak ada ambisi tersebut padanya. Itu adalah  teori dan hipotesis palsu, yang karena tidak bisa diterapkan, dan bahkan tidak bisa ditolerir, sangat perlu kita hindari.
Mengapa Thomas Carlyle, seorang penganut Kristen yang taat, perlu membela Muhammad ? Mengapa ia memilih Muhammad, orang yang paling didustakan pada jamannnya Thomas Carlyle, sebagai nabi-pahlawannya ? Mengapa bukan Musa, Daud, Sulaiman, atau Yesus tapi Muhammad ? Untuk menenangkan umat Anglican di mana ia hidup, ia memberikan dalihnya :
"Karena tidak ada bahaya bagi kita semua untuk berubah menjadi penganut Muhammad, saya berniat untuk menyatakan apa-apa yang baik tentang diri Muhammad sejujur-jujurnya."
Sungguh sulit untuk mencari seorang umat Kristen yang berani menyatakan apa-apa yang benar tentang Muhammad dan Islam pada jaman di mana kebencian dan prasangka buruk terhadap Islam dan Muhammad begitu besar. Ia mengakui dengan jujur akan ketulusan Nabi Muhammad dalam menyebarkan ajarannya, sesuatu yang tidak mungkin dilakukan oleh seorang nabi palsu. Selanjutnya ia berkata :
"Ketulusan Manusia Agung ini adalah sesuatu yang tidak bisa dia ucapkan sendiri. Tidak. Manusia Agung ini tidak pernah menyombongkan dirinya dengan ketulusannya. Ia jauh dari itu. Bahkan ia mungkin tidak pernah bertanya pada dirinya apakah ia tulus atau tidak : Saya berani mengatakan bahwa ketulusan nya tidak bergantung pada dirinya. Ia tidak bisa tidak tulus."

 "Seseorang yang benar dan jujur; benar dalam perbuatannya, benar dalam ucapan dan pikirannya. Mereka tahu bahwa ia  selalu mempunyai tujuan, seorang yang hemat dalam berbicara, diam kalau tak ada yang perlu diucapkan, tapi tegas, bijak, dan tulus jika berbicara; selalu memberikan jalan keluar  dalam setiap masalah. Inilah yang disebut 'worth speaking speech' !
Sampai sekarang saya tetap tidak mengerti mengapa Carlyle begitu berani berhadapan langsung 180 derajat dengan pendapat umum mengenai Nabi Muhammad. Puji-pujiannya yang tinggi terhadap Nabi Muhammad sulit dipahami dalam konteks bahwa ia seorang penganut Kristen yang taat. Ia seolah hendak mengaminkan pujian Allah sendiri terhadap NabiNya tersebut dalam QS 68:4 :

        "Dan sungguh sebenarnya engkau memiliki kepribadian yang tinggi."


"STUDI KRITIS PEMAHAMAN ISLAM"
Oleh ARMANSYAH

Sponsor link: